Studi Perbandingan Support Orangtua terhadap Status Identitas Area Pekerjaan pada Remaja Masyarakat Berdimensi Industri dan Nonindustri
Abstract
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh bukti-bukti empirik mengenai support orangtua sebagai social support utama atas pencapaian identitas remaja pada area pekerjaan dari dua komunitas kemasyarakatan yang berlainan, yakni masyarakat Industri dan Nonindustri. Menurut Marcia (1983), berdasar paradigma Bowlby (1969) tentang model attachment-exploration, menyatakan bahwa keberhasilan seseorang mencapai identitas berangkat dari keberhasilan usia masa bayi ketika bereksplorasi terhadap lingkungannya. Hal ini bergantung pada bentuk dan kekuatan attachment yang ditampilkan orangtua, sehingga tercapainya identitas pada masa remaja akan didasarkan atas adanya kepercayaan akan adanya support orangtua, a sense of industry (perasaan bahwa ia mampu menguasai ketrampilan-ketrampilan) dan orientasi masa depan. Ketiga variabel tersebut dinyatakan berhubungan secara hierarkis, dan percaya akan adanya support orangtua menjadi dasar bagi efektivitas yang kondusif atas berlangsungnya dua variabel yang lain; yakni sense of industry dan orientasi masa depan.
Penelitian lebih difokuskan pada studi analisis komparatif tentang kontribusi dua konteks sosial dimensi masyarakat tersebut. Nilai-nilai potensial dalam konteks sosial kedua dimensi itu diduga berkaitan erat dengan nilai dan orientasi orangtua dalam mengintroyeksi anak-anaknya menetapkan peran karirnya di masa depan. Konsep pencapaian identitas dalam area pekerjaan (vocational identity) yang dipergunakan sebagai acuan penelitian ini bertolak dari teori James F. Marcia tentang Ego Identity. Dari konsep eksplorasi dan komitmen, Marcia mengajukan suatu gambaran 4 (empat) status identitas yang dapat dicapai seorang anak yaitu Identity Achievement, Moratorium, Foreclosure dan Identity Diffusion. Penelitian ini hanya membatasi pada area pekerjaan saja, dengan fokus penela’ahan sebuah mekanisme proses industrialisasi yang ditengarai akan mengimbas support orangtua yang secara teoretik dinyatakan memberi kontribusi terhadap capaian status identitas anak. Studi ini juga membatasi pada penelusuran aspek eksplorasi dan komitmen saja dengan alasan belum diperoleh batasan normatif tentang keempat kuadran status identitas tersebut yang dapat didefinisikan dalam penjabaran statistik.
Penelitian dilakukan di Kawasan Industri Baja Kodya Cilegon dan Kawasan Banten Lama Kab. Serang dengan penarikan sampel melalui Two Stage Cluster serta diperoleh 124 responden dimensi Industri dan 93 responden dimensi Nonindustri yang memenuhi karakteristik sampel. Identifikasi masyarakat Industri dan Nonindustri secara teoretik diasses dengan menggunakan Behavior Setting Survey dari Barker & Wright (1963); disamping menerapkan kriteria-kriteria dari Dinas Kependudukan setempat (cq. DPWTK). Dua populasi yang berbeda itu menunjukkan uji kesamaan varians secara statistik sebesar Fhit 1.31 <> c20.95(5) =11.1 dan secara statistik menunjukkan ada keterkaitan faktor secara asosiatif antara dimensi masyarakat Industri-Nonindustri, support orangtua dan tinggi rendahnya eksplorasi dan komitmen. Temuan lain adalah kecenderungan yang lebih kuat dari support orangtua dalam masyarakat Nonindustri, dibanding dari masyarakat Industri melalui uji dua rata-rata satu pihak thit –2.08 < 215 =" 1.64." z1 =" 0.105" z2 =" 0.217)," zeks1 =" -0.070" zeks2 =" 0.213)," zkom1 =" 0.387"> Zkom2 = 0.037).
Penelitian lebih difokuskan pada studi analisis komparatif tentang kontribusi dua konteks sosial dimensi masyarakat tersebut. Nilai-nilai potensial dalam konteks sosial kedua dimensi itu diduga berkaitan erat dengan nilai dan orientasi orangtua dalam mengintroyeksi anak-anaknya menetapkan peran karirnya di masa depan. Konsep pencapaian identitas dalam area pekerjaan (vocational identity) yang dipergunakan sebagai acuan penelitian ini bertolak dari teori James F. Marcia tentang Ego Identity. Dari konsep eksplorasi dan komitmen, Marcia mengajukan suatu gambaran 4 (empat) status identitas yang dapat dicapai seorang anak yaitu Identity Achievement, Moratorium, Foreclosure dan Identity Diffusion. Penelitian ini hanya membatasi pada area pekerjaan saja, dengan fokus penela’ahan sebuah mekanisme proses industrialisasi yang ditengarai akan mengimbas support orangtua yang secara teoretik dinyatakan memberi kontribusi terhadap capaian status identitas anak. Studi ini juga membatasi pada penelusuran aspek eksplorasi dan komitmen saja dengan alasan belum diperoleh batasan normatif tentang keempat kuadran status identitas tersebut yang dapat didefinisikan dalam penjabaran statistik.
Penelitian dilakukan di Kawasan Industri Baja Kodya Cilegon dan Kawasan Banten Lama Kab. Serang dengan penarikan sampel melalui Two Stage Cluster serta diperoleh 124 responden dimensi Industri dan 93 responden dimensi Nonindustri yang memenuhi karakteristik sampel. Identifikasi masyarakat Industri dan Nonindustri secara teoretik diasses dengan menggunakan Behavior Setting Survey dari Barker & Wright (1963); disamping menerapkan kriteria-kriteria dari Dinas Kependudukan setempat (cq. DPWTK). Dua populasi yang berbeda itu menunjukkan uji kesamaan varians secara statistik sebesar Fhit 1.31 <> c20.95(5) =11.1 dan secara statistik menunjukkan ada keterkaitan faktor secara asosiatif antara dimensi masyarakat Industri-Nonindustri, support orangtua dan tinggi rendahnya eksplorasi dan komitmen. Temuan lain adalah kecenderungan yang lebih kuat dari support orangtua dalam masyarakat Nonindustri, dibanding dari masyarakat Industri melalui uji dua rata-rata satu pihak thit –2.08 < 215 =" 1.64." z1 =" 0.105" z2 =" 0.217)," zeks1 =" -0.070" zeks2 =" 0.213)," zkom1 =" 0.387"> Zkom2 = 0.037).
1. Pendahuluan
Tanpa bermaksud menafikan sikap pro dan kontra tentang isu otonomi daerah, rata-rata daerah yang berhasrat kuat untuk memperoleh otorisasi kebijakan demikian adalah daerah yang kaya sumber daya alamnya namun tidak terlihat kekayaan SDM-nya; seperti wilayah Aceh, Riau, Banten, Timor (NTT-NTB) dan Irian Jaya. Wilayah-wilayah ini memang strategis dari aspek sumber devisa negara karena begitu banyak menghasilkan hasil bumi, yakni tambang LNG, minyak bumi, emas dan tembaga, namun rata-rata SDM nya adalah kaum pendatang; bukan “masyarakat pribumi”. Tidaklah mengherankan jika suatu saat akan terjadi kerusuhan sosial di sektor industri hasil bumi ini karena faktor kesenjangan, penerimaan, kecemburuan dan prasangka sosial. Beberapa kejadian yang mengemuka adalah unjuk rasa dan pendudukan kaum “pribumi” Banten di sektor-sektor industri Krakatau Steel, pemblokiran kaum “Melayu Asli” atas kompleks dan areal produksi Pertamina dan Caltex, pembuatan pagar betis masyarakat “asli” setempat terhadap Newmount di Lombok dan FreePort di Tembagapura. Akar permasalahan yang sering terungkap yaitu ketidakadilan, karena warga asli merasa diperlakukan diskriminatif dalam memperoleh kesempatan bekerja, sehingga industrialisasi pun dinilai sebagai penyingkiran warga sekitarnya dengan menghadirkan kaum pendatang.
Dari studi banding yang pernah dilakukan lintas sektoral, rata-rata industri demikian hanya menyerap 15-25% SDM penduduk “asli pribumi”, selebihnya pendatang. Alasan klasik pihak manajemen, pada kenyataannya SDM penduduk lokal tidak memenuhi kualifikasi jabatan yang dibutuhkan sehingga dinilai tidak cukup kapabel dan kompeten membidangi pekerjaan di sektor-sektor industri semacam demikian. Alasan itu sebenarnya sangat riil sebagai konsekuensi logis sangat minimnya institusi pendidikan di wilayah setempat. Selain itu, juga cara hidup dan kebiasaan penduduk asli setempat yang tidak representatif dengan kehidupan modern yang padat dengan penggunaan teknologi informasi. Terlebih lagi bahwa perkembangan teknologi ternyata jauh lebih pesat dari tahap tugas perkembangan manusia, sehingga para penduduk asli bisa kesulitan untuk mengubah dan beradaptasi jika terlibat dalam kehidupan industri.
Fenomena yang sering terjadi pada penduduk asli setempat yang bekerja di sektor industri demikian adalah terhambatnya karir jabatan akibat stagnasi penguasaan ketrampilan dan manajerial, persepsi yang keliru terhadap fungsi-fungsi supervisi manajemen dan munculnya prasangka sosial terhadap kebijakan perusahaan. Karena rendahnya tingkat pendidikan dan juga mutu belajar, seseorang menjadi kurang cakap menguasai berbagai ketrampilan yang diperlukan dalam tingkat selanjutnya. Fungsi supervisi manajemen dalam pembagian tugas, kewajiban dan tanggungjawab sering disalahtafsirkan sebagai kesewenang-wenangan dan kecongkakan. Perluasan areal kepabrikan dan pengembangan industri sering dicurigai sebagai kanibalisme wilayah pemukiman penduduk setempat. Semua fenomena itu diyakini bermula dari adanya benturan nilai dan norma dalam dunia industri dan nonindustri.
Gary M. Ingersoll (1989, hal. 182-183), menyatakan bahwa sebuah mekanisme proses industrialisasi akan menyebabkan anak-anak muda; baik pria maupun wanita harus bertindak dengan segera untuk memulai memainkan peran karir pekerjaannya (vocational roles) lebih awal dari masa yang seharusnya, yakni sekitar permulaan usia antara 12 – 14 tahun. Seorang anak muda dalam usia masa tersebut tidak akan begitu banyak terlibat dalam proses pengambilan keputusan untuk menentukan peran-peran karirnya, karena usaha-usaha demikian lebih banyak didominasi oleh pendiktean orangtua mereka masing-masing. Kasus nasional tentang Great Depression yang pernah melanda pekerja-pekerja remaja di US sekitar tahun 1930-1950 merupakan sebuah bukti ketidakberhasilan remaja setempat mencapai status identitas area pekerjaan (vocational identity) sehingga mengalami maladjustment ketika harus menyesuai dengan mekanisme industrialisasi yang memberi dampak perubahan sangat dramatis (John Coleman, 1978 dalam Laurence Steinberg (1993) dan 1976 dalam Gary M. Ingersoll (1989). Eli Ginsberg (1951, dalam Gary M. Ingersoll, hal. 191-192) menyatakan bahwa remaja saat itu akan dihadapkan pada tekanan ekonomi, sosial dan lingkungan saat mencari bentuk kompromi antara aspirasi tujuan karirnya dengan realitas yang ada. Remaja akan berhasil melewati tekanan-tekanan semacam ini, bila ia mendapatkan katalisator yang cukup yakni pemenuhan karakteristik emosional (emotional characteristic) dan pembentukan nilai-nilai pribadi (personal values).
Untuk mengantisipasi persoalan SDM dalam otonomi daerah yang cenderung sangat antusias mengotonomikan industri-industri semacam itu, tidak sekedar diperlukan akselerasi upaya-upaya program pendidikan guna peningkatan SDM. Namun yang lebih penting, ialah mempersiapkan putra-putra daerah yang konon dikabarkan lebih berhak untuk menentukan masa depan sektor usaha dan industri di daerahnya masing-masing. Bukti kongkrit yang saat ini ditemukan, setelah hampir seperempat abad industri tersebut dioperasionalisasikan, proporsi SDM warga asli yang bekerja di sektor itu relatif tetap pada kisaran 15-25% dari total jumlah pekerja; selebihnya masih didominasi kaum pendatang. Yang lebih memprihatinkan, jabatan pimpinan puncak dan madya yang berkisar hanya 10-15% dari populasi pekerja, hampir 90% didominasi kaum pendatang. Ada fenomena yang relatif sama di wilayah-wilayah pengembangan kawasan industri besar seperti itu yakni, baik kaum tua (orangtua dan orang dewasa) maupun kaum muda (anak dan remaja) penduduk setempat ternyata belum cukup mampu unjuk gigi. Bahkan kebanyakan dari mereka pada akhirnya memperoleh pekerjaan yang tidak tetap, tidak prospektif dan tersingkir menjadi kaum pinggiran bahkan menganggur.
Dari fenomena tersebut di atas diyakini bahwa kontribusi pengasuhan orangtua dan pembinaan dari keluarga serta pendidikan formal masyarakat nonindustri belum cukup mampu mempersiapkan putra-putra daerah untuk menghadapi dampak perubahan industrialisasi, meskipun industrialisasi telah beroperasi selama hampir seperempat abad. Oleh sebab itu, sangat diperlukan pembinaan generasi muda untuk memberdayakan SDM putra daerah secara nyata; khususnya untuk mengantisipasi realisasi otonomi daerah dalam waktu dekat ini. Melalui studi ini, efektivitas dan karakteristik support orangtua antara masyarakat dimensi Industri dan Nonindustri dalam membentuk perkembangan anak remaja bisa diketahui; khususnya yang berkaitan dengan identitas dirinya dalam memasuki dunia industri. Dengan demikian, ancangan program sosialisasi pemberdayaan SDM putra daerah dapat direalisasikan secara lebih cepat dan tepat sasaran.
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data-data mengenai pencapaian status identitas remaja pada area pekerjaan dari dimensi Industri Kawasan Industri Berat Kodya Cilegon dan dimensi Nonindustri Kawasan Banten Lama Kabupaten Serang. Adapun tujuan penelitian ini adalah mencari bukti-bukti empirik tentang hubungan support orangtua dan status identitas renaja melalui studi analisis komparatif tentang kontribusi support orangtua dari masyarakat berdimensi Industri dan Nonindustri. Selain itu, juga diharapkan dapat memberikan informasi lebih mendalam tentang karakteristik aspek-aspek lingkungan sosial yang dianggap paling efektif dan optimal berperan dalam mempengaruhi support orangtua sebagai sosial support utama atas pencapaian status identitas remaja area pekerjaan tiap dimensi.
Temuan-temuan demikian agaknya dapat dipandang sebagai masukan dan umpanbalik kepada tokoh pendidik dan pengajar, kalangan pemerintah dan kelompok usaha guna mengupayakan secara lebih efektif program peningkatan pendidikan, keahlian dan ketrampilan bagi putra daerah yang sejalan dengan program pengembangan sektor produksi, ekonomi, usaha dan perdagangan; khususnya dalam realisasi otonomi daerah. Artinya, program pemberdayaan SDM untuk tenaga kerja produktif yang kebanyakan remaja akhir, tidak lagi sekedar dibentuk menjadi tenaga kerja siap pakai, namun juga siap berwirausaha.
Tanpa bermaksud menafikan sikap pro dan kontra tentang isu otonomi daerah, rata-rata daerah yang berhasrat kuat untuk memperoleh otorisasi kebijakan demikian adalah daerah yang kaya sumber daya alamnya namun tidak terlihat kekayaan SDM-nya; seperti wilayah Aceh, Riau, Banten, Timor (NTT-NTB) dan Irian Jaya. Wilayah-wilayah ini memang strategis dari aspek sumber devisa negara karena begitu banyak menghasilkan hasil bumi, yakni tambang LNG, minyak bumi, emas dan tembaga, namun rata-rata SDM nya adalah kaum pendatang; bukan “masyarakat pribumi”. Tidaklah mengherankan jika suatu saat akan terjadi kerusuhan sosial di sektor industri hasil bumi ini karena faktor kesenjangan, penerimaan, kecemburuan dan prasangka sosial. Beberapa kejadian yang mengemuka adalah unjuk rasa dan pendudukan kaum “pribumi” Banten di sektor-sektor industri Krakatau Steel, pemblokiran kaum “Melayu Asli” atas kompleks dan areal produksi Pertamina dan Caltex, pembuatan pagar betis masyarakat “asli” setempat terhadap Newmount di Lombok dan FreePort di Tembagapura. Akar permasalahan yang sering terungkap yaitu ketidakadilan, karena warga asli merasa diperlakukan diskriminatif dalam memperoleh kesempatan bekerja, sehingga industrialisasi pun dinilai sebagai penyingkiran warga sekitarnya dengan menghadirkan kaum pendatang.
Dari studi banding yang pernah dilakukan lintas sektoral, rata-rata industri demikian hanya menyerap 15-25% SDM penduduk “asli pribumi”, selebihnya pendatang. Alasan klasik pihak manajemen, pada kenyataannya SDM penduduk lokal tidak memenuhi kualifikasi jabatan yang dibutuhkan sehingga dinilai tidak cukup kapabel dan kompeten membidangi pekerjaan di sektor-sektor industri semacam demikian. Alasan itu sebenarnya sangat riil sebagai konsekuensi logis sangat minimnya institusi pendidikan di wilayah setempat. Selain itu, juga cara hidup dan kebiasaan penduduk asli setempat yang tidak representatif dengan kehidupan modern yang padat dengan penggunaan teknologi informasi. Terlebih lagi bahwa perkembangan teknologi ternyata jauh lebih pesat dari tahap tugas perkembangan manusia, sehingga para penduduk asli bisa kesulitan untuk mengubah dan beradaptasi jika terlibat dalam kehidupan industri.
Fenomena yang sering terjadi pada penduduk asli setempat yang bekerja di sektor industri demikian adalah terhambatnya karir jabatan akibat stagnasi penguasaan ketrampilan dan manajerial, persepsi yang keliru terhadap fungsi-fungsi supervisi manajemen dan munculnya prasangka sosial terhadap kebijakan perusahaan. Karena rendahnya tingkat pendidikan dan juga mutu belajar, seseorang menjadi kurang cakap menguasai berbagai ketrampilan yang diperlukan dalam tingkat selanjutnya. Fungsi supervisi manajemen dalam pembagian tugas, kewajiban dan tanggungjawab sering disalahtafsirkan sebagai kesewenang-wenangan dan kecongkakan. Perluasan areal kepabrikan dan pengembangan industri sering dicurigai sebagai kanibalisme wilayah pemukiman penduduk setempat. Semua fenomena itu diyakini bermula dari adanya benturan nilai dan norma dalam dunia industri dan nonindustri.
Gary M. Ingersoll (1989, hal. 182-183), menyatakan bahwa sebuah mekanisme proses industrialisasi akan menyebabkan anak-anak muda; baik pria maupun wanita harus bertindak dengan segera untuk memulai memainkan peran karir pekerjaannya (vocational roles) lebih awal dari masa yang seharusnya, yakni sekitar permulaan usia antara 12 – 14 tahun. Seorang anak muda dalam usia masa tersebut tidak akan begitu banyak terlibat dalam proses pengambilan keputusan untuk menentukan peran-peran karirnya, karena usaha-usaha demikian lebih banyak didominasi oleh pendiktean orangtua mereka masing-masing. Kasus nasional tentang Great Depression yang pernah melanda pekerja-pekerja remaja di US sekitar tahun 1930-1950 merupakan sebuah bukti ketidakberhasilan remaja setempat mencapai status identitas area pekerjaan (vocational identity) sehingga mengalami maladjustment ketika harus menyesuai dengan mekanisme industrialisasi yang memberi dampak perubahan sangat dramatis (John Coleman, 1978 dalam Laurence Steinberg (1993) dan 1976 dalam Gary M. Ingersoll (1989). Eli Ginsberg (1951, dalam Gary M. Ingersoll, hal. 191-192) menyatakan bahwa remaja saat itu akan dihadapkan pada tekanan ekonomi, sosial dan lingkungan saat mencari bentuk kompromi antara aspirasi tujuan karirnya dengan realitas yang ada. Remaja akan berhasil melewati tekanan-tekanan semacam ini, bila ia mendapatkan katalisator yang cukup yakni pemenuhan karakteristik emosional (emotional characteristic) dan pembentukan nilai-nilai pribadi (personal values).
Untuk mengantisipasi persoalan SDM dalam otonomi daerah yang cenderung sangat antusias mengotonomikan industri-industri semacam itu, tidak sekedar diperlukan akselerasi upaya-upaya program pendidikan guna peningkatan SDM. Namun yang lebih penting, ialah mempersiapkan putra-putra daerah yang konon dikabarkan lebih berhak untuk menentukan masa depan sektor usaha dan industri di daerahnya masing-masing. Bukti kongkrit yang saat ini ditemukan, setelah hampir seperempat abad industri tersebut dioperasionalisasikan, proporsi SDM warga asli yang bekerja di sektor itu relatif tetap pada kisaran 15-25% dari total jumlah pekerja; selebihnya masih didominasi kaum pendatang. Yang lebih memprihatinkan, jabatan pimpinan puncak dan madya yang berkisar hanya 10-15% dari populasi pekerja, hampir 90% didominasi kaum pendatang. Ada fenomena yang relatif sama di wilayah-wilayah pengembangan kawasan industri besar seperti itu yakni, baik kaum tua (orangtua dan orang dewasa) maupun kaum muda (anak dan remaja) penduduk setempat ternyata belum cukup mampu unjuk gigi. Bahkan kebanyakan dari mereka pada akhirnya memperoleh pekerjaan yang tidak tetap, tidak prospektif dan tersingkir menjadi kaum pinggiran bahkan menganggur.
Dari fenomena tersebut di atas diyakini bahwa kontribusi pengasuhan orangtua dan pembinaan dari keluarga serta pendidikan formal masyarakat nonindustri belum cukup mampu mempersiapkan putra-putra daerah untuk menghadapi dampak perubahan industrialisasi, meskipun industrialisasi telah beroperasi selama hampir seperempat abad. Oleh sebab itu, sangat diperlukan pembinaan generasi muda untuk memberdayakan SDM putra daerah secara nyata; khususnya untuk mengantisipasi realisasi otonomi daerah dalam waktu dekat ini. Melalui studi ini, efektivitas dan karakteristik support orangtua antara masyarakat dimensi Industri dan Nonindustri dalam membentuk perkembangan anak remaja bisa diketahui; khususnya yang berkaitan dengan identitas dirinya dalam memasuki dunia industri. Dengan demikian, ancangan program sosialisasi pemberdayaan SDM putra daerah dapat direalisasikan secara lebih cepat dan tepat sasaran.
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data-data mengenai pencapaian status identitas remaja pada area pekerjaan dari dimensi Industri Kawasan Industri Berat Kodya Cilegon dan dimensi Nonindustri Kawasan Banten Lama Kabupaten Serang. Adapun tujuan penelitian ini adalah mencari bukti-bukti empirik tentang hubungan support orangtua dan status identitas renaja melalui studi analisis komparatif tentang kontribusi support orangtua dari masyarakat berdimensi Industri dan Nonindustri. Selain itu, juga diharapkan dapat memberikan informasi lebih mendalam tentang karakteristik aspek-aspek lingkungan sosial yang dianggap paling efektif dan optimal berperan dalam mempengaruhi support orangtua sebagai sosial support utama atas pencapaian status identitas remaja area pekerjaan tiap dimensi.
Temuan-temuan demikian agaknya dapat dipandang sebagai masukan dan umpanbalik kepada tokoh pendidik dan pengajar, kalangan pemerintah dan kelompok usaha guna mengupayakan secara lebih efektif program peningkatan pendidikan, keahlian dan ketrampilan bagi putra daerah yang sejalan dengan program pengembangan sektor produksi, ekonomi, usaha dan perdagangan; khususnya dalam realisasi otonomi daerah. Artinya, program pemberdayaan SDM untuk tenaga kerja produktif yang kebanyakan remaja akhir, tidak lagi sekedar dibentuk menjadi tenaga kerja siap pakai, namun juga siap berwirausaha.
2. Identifikasi Masalah
Dalam pembentukan identitas remaja pada area pekerjaan, sistem nilai sosial tak dapat dipungkiri memberikan kontribusi nyata terhadap status identitas yang kelak harus dicapai remaja. Mengacu bahwa pencapaian status identitas remaja yang hendak diteliti berada pada area pekerjaan, maka proses dan karakteristik yang akan terbentuk dalam identitas tersebut sedikit banyak menggambarkan karakteristik lingkungan dan kehidupan masyarakat Industri dan Nonindustri. Karakteristik lingkungan dan kehidupan masyarakat yang diyakini sanggup memberi kontribusi terhadap pembentukan identitas remaja dalam studi ini diistilahkan dengan dimensi.
Dimensi Industri direpresentasikan oleh sebuah komunitas masyarakat dari kawasan industri berat yakni Kodya Cilegon; sedangkan dimensi Nonindustri direpresentasikan oleh komunitas masyarakat kawasan Banten Lama Kabupaten Serang. Merujuk dari uraian dan batasan tersebut di atas maka identifikasi masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1) Apakah terdapat hubungan antara support orangtua yang dipersepsi remaja dengan status identitas area pekerjaan dalam masyarakat dimensi Industri maupun Nonindustri ?
2) Apakah terdapat perbedaan antara support orangtua yang dipersepsi remaja dengan status identitas area pekerjaan dalam masyarakat berdimensi Industri dan Nonindustri?
3. Kerangka Teoretik
3.A. Dimensi Industri dan Nonindustri.
Menurut Inkeles dan Smith (1974) dalam analisis proyek lintas budaya dibidang sosial dan ekonomi di kawasan Asia Pasifik diperoleh 4 (empat) karakteristik pola kebiasaan berperilaku individu dalam sebuah masyarakat berdimensi Industri sbb:
(1)Terbuka terhadap hal-hal baru dan bersedia memiliki pengalaman baru, mencakup didalamnya kesediaan untuk mengerjakan sesuatu dengan cara yang baru, seperti halnya perencanaan keluarga (KB) dan pengendalian kelahiran.
(2)Asertif dalam meningkatkan independensi dari figur otoritas tradisional, seperti orangtua atau tokoh masyarakat.
(3)Memiliki keyakinan sepenuhnya atas fungsi dan peran sebuah keilmuan dan medis, serta mengabaikan sikap pasrah (passivity) dan fatalistik bila menghadapi suatu kesulitan hidup.
(4)Menunjukkan ambisi kuat atas keberadaan pribadinya dan memacu anak-anaknya untuk mencapai tingkat prestasi tertinggi dalam bidang pendidikan dan pekerjaan.
Selain karakteristik tersebut, juga diungkapkan bahwa bidang pendidikan dinilai sebagai faktor yang terkuat dalam menentukan derajat modernisasi atas sikap, nilai dan perilaku sebuah masyarakat modern. Bahkan beberapa pendidikan mulai dikembangkan dengan spesifikasi khusus untuk memenuhi dunia kepabrikan atau industrialisasi; dan hal demikian dianggap memberi kontribusi paling kuat secara signifikan atas perubahan sikap yang modern. Karena fasilitas dan akomodasi program pendidikan memang telah diarahkan untuk tujuan industrialisasi, maka tak ada pilihan lain bagi orangtua untuk memberi support kepada anak-anaknya agar berprestasi di bidang tersebut.
Elisabeth Werner (1979 : 13-20) dalam temuan-temuan riset lintas budaya meyakini bahwa pola kebiasaan atau perilaku seseorang dipengaruhi oleh sifat populasi, geografis, sistem sosial, mata pencaharian dan karakteristik ketrampilan hidup, etnografi serta ekologi. Lerner (1983 : 68) juga mengungkapkan bahwa nilai-nilai tradisional yang bersifat kommunal dapat tergeser menjadi nilai-nilai praktis, efisiensi dan ekonomi; sehingga orang tidak perlu lagi membatasi diri dengan ruang dan waktu. Filosofi nilai kehidupan masyarakat tradisional mulai digantikan oleh pandangan ekonomi dan efisiensi yang pragmatis, begitu suatu wilayah pemukiman tersentuh oleh modernisasi dan pengembangan teknologi. Dari temuan tersebut dapat diyakini bahwa dimensi kehidupan masyarakat Industri dan Nonindustri akan berpengaruh pula pada pencapaian status identitas remaja. Sebuah dimensi Industri dengan masyarakat modern tentunya akan menawarkan sejumlah peluang dan kesempatan lapangan kerja yang begitu banyak; sebaliknya dimensi Nonindustri dengan masyarakat tradisional tidak begitu menawarkan sejumlah lapangan kerja yang bervariasi. Secara empirik, hal ini dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, fasilitas pendidikan, transportasi, informasi dan komunikasi serta pusat-pusat bisnis dan perdagangan yang lebih banyak dijumpai di dalam masyarakat modern berdimensi Industri daripada sebaliknya. Bila pola kebiasaan seseorang lebih dipengaruhi oleh konteks sosial maka pola pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga maupun pendidikan formal, cara pandang dan pemikiran orang tua serta identitas remaja pun banyak dipengaruhi oleh hal yang sama.
3.B. Support Orangtua
Menurut Marcia (1983) ada tiga variabel yang berperan membantu tercapainya identitas pada masa remaja akhir, yaitu percaya akan adanya support orangtua, a sense of industry (perasaan bahwa ia mampu menguasai ketrampilan-ketrampilan) dan orientasi masa depan. Ketiga variabel tersebut dinyatakan berhubungan secara hierarkis, dan percaya akan adanya support orangtua menjadi dasar bagi efektivitas yang kondusif atas berlangsungnya dua variabel yang lain; yakni sense of industry dan orientasi masa depan. Apabila remaja telah memiliki rasa percaya bahwa orangtuanya akan memberi support maka individu yang bersangkutan akan mencapai suatu kondisi perasaan bahwa ia mampu menguasai ketrampilan-ketrampilan; baik dari segi fisik, emosi dan afeksional serta konseptual. Selanjutnya, kondisi perasaan demikian akan terus berkembang dalam berbagai pengalaman hidup sepanjang waktu dalam rentang kehidupan remaja. Berangkat dari berbagai pengalaman kehidupannya yang selalu memperoleh perasaan nyaman dan tenang atas segala kemungkinan kesulitan hidup karena selalu percaya adanya support orangtua, membuat remaja mampu untuk membangun orientasi masa depannya kelak.
Support orangtua yang dikemukakan oleh Marcia didasarkan atas paradigma yang dijabarkan oleh Bowlby (1969) tentang model attachment-exploration, yang menyatakan bahwa keberhasilan bayi bereksplorasi bergantung pada bentuk dan kekuatan attachment yang ditampilkan orangtua. Disamping itu juga, support orangtua dianggap sebagai social support yang paling utama dan pertamakali dialami dan diterima anak. Dalam support orangtua pun lebih banyak diidentifikasikan mengandung substansi aspek struktural, maupun aspek fungsional sebagai sebuah integrasi aspek yang harus ada dalam social support. Kriteria utama social support diantaranya, keterikatan yang berarti (significant relationship) guna memberi jaminan support kepada seorang anak atau remaja dalam pembentukan identitas; terlepas bahwa keterikatan itu benar-benar ada atau tidak (exist & no exist) dan lebih banyak ditemukan pada figur otoritas keluarga, yakni orangtua (Power M.J., Champion L.A., Aris S. J., 1988 : 349-350).
Kriteria penting lain dalam social support yaitu adanya aspek fungsional yang menunjukkan support secara emosional maupun secara praktikal (emotional & practical support). Kriteria demikian menjelaskan bahwa sebuah social support haruslah secara empirik dapat dibuktikan dengan meninjau praktek perawatan dan pengasuhan anak kesehariannya (caring, nurturing, intimacy, attachment, guidance) dan didalamnya ada keterikatan dan keterlibatan emosional sangat kuat dan mendalam; yang lebih banyak dilakukan oleh orangtua daripada figur lain yang signifikan. Hal demikian juga pernah dilaporkan oleh Murphy and Moriarty (1976) dalam Sarason, Levine, Basham dan Sarason (1983) yang menyatakan bahwa interaksi anak dan orangtua dalam keluarga ternyata memberikan kontribusi anak dalam mencapai kecakapan bertanggungjawab, keberanian untuk memimpin dan ketahanan terhadap situasi stress.
Lebih lanjut Sandler (1980) menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara stress dan social support, sehingga anak yang kurang merasakan social support akan mengalami maladjustment. Henderson (1980), Ramsay, Barera, Sandler (1981) menemukan bahwa orang yang merasakan emotional support akan relatif mudah untuk melakukan problem solving; sehingga kepuasan atas adanya support yang dirasakan, dipersepsi dan diterima oleh anak lebih berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya lebih lanjut. Dan lingkungan yang dipersepsikan dan dirasakan paling memberi kepuasan adalah lingkungan keluarga, karena interaksi yang terjadi antara sesama anggota keluarga terjadi begitu saja secara alamiah (natural).
Hal demikian juga pernah ditegaskan dalam pandangan teori psikoanalisis bahwasanya remaja diasumsikan masih membutuhkan keberadaan orang dewasa yang lebih berpengalaman dalam kehidupannya. Kebutuhan remaja akan keberadaan orang dewasa untuk memperoleh support, dalam teori attachment adalah kebutuhan untuk mendapatkan dukungan sosial. Perlunya dukungan sosial semacam ini menggambarkan bahwa remaja membutuhkan keberadaan orang yang dapat diandalkan, seseorang yang selalu dipercaya memberikan kasih sayang, perhatian, perawatan dan penghargaan serta menerima dirinya dengan sepenuh hati (Bowlby dalam Sarason, 1983).
Selama remaja berinteraksi bersama dengan orangtuanya, seluruh pengalaman hidup diri individu yang dimulai sejak masa kanak-kanak sampai memasuki tahap masa remaja akan memperoleh peluang yang lebih besar dan lebih baik secara kualitatif untuk diinternalisasikan ke dalam pribadi remaja. Hasil dari internalisasi tersebut adalah persepsi remaja tentang nilai, norma dan perilaku figur orangtuanya selama memberikan support kepada dirinya. Oleh karena itu, percaya adanya support orangtua yang dikemukakan oleh Marcia menjadi sangat penting untuk dipersepsikan dalam alam pemikiran remaja; mengingat bahwa support orangtua adalah social support yang pertama dan utama. Sebab dengan adanya persepsi remaja atas support orangtua, maka individu yang bersangkutan akan mendapatkan rasa aman. Dengan adanya rasa aman maka remaja menjadi lebih berani untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya, terhadap berbagai alternatif bidang pekerjaan yang kelak menjadi pilihan karirnya, membandingkan kemampuan dirinya dengan kemampuan orang lain atas pilihan karir pekerjaannya. Apabila ia mampu memahami dan menghayati kelemahan dan keunggulan atas kemampuan serta potensi dirinya terhadap pilihan karir pekerjaannya, maka ia pun relatif lebih mudah untuk menyesuai terhadap kesulitan dan permasalahan yang sedang dan akan dihadapinya kelak. Dengan kata lain, ia dianggap cukup mampu menghadapi tantangan krisis identitas yang kemungkinan bisa menimpa dirinya. Remaja mampu bertindak realistis dan layak untuk menetapkan pilihan karir pekerjaan sesuai dengan kemampuan dirinya yang membedakannya dengan orang lain serta diterima oleh pandangan sosiobudaya serta memenuhi harapan dan tuntutan lingkup masyarakat tempat remaja dibesarkan.
Persoalan atas identitas bisa menjadi meluas, jika support orangtua ternyata tidak memberi kontribusi yang positif dan konstruktif dalam proses perkembangan anak dan pembentukan identitas remaja. Kontribusi positif adalah unsur-unsur pengasuhan, bimbingan, pendidikan dan keterikatan emosional yang bersifat kondusif untuk membentuk nilai dan norma kuat dalam keluarga tempat remaja membentuk identitasnya. Sedangkan kontribusi konstruktif lebih menyatakan fungsi dan peran orangtua untuk menjaga dan memelihara pribadi remaja selama proses perkembangan dan pembentukan identitas; sehingga anak relatif cepat menyesuai dengan sebuah perubahan atau kesulitan.
Menurut Marcia (1983) ada tiga variabel yang berperan membantu tercapainya identitas pada masa remaja akhir, yaitu percaya akan adanya support orangtua, a sense of industry (perasaan bahwa ia mampu menguasai ketrampilan-ketrampilan) dan orientasi masa depan. Ketiga variabel tersebut dinyatakan berhubungan secara hierarkis, dan percaya akan adanya support orangtua menjadi dasar bagi efektivitas yang kondusif atas berlangsungnya dua variabel yang lain; yakni sense of industry dan orientasi masa depan. Apabila remaja telah memiliki rasa percaya bahwa orangtuanya akan memberi support maka individu yang bersangkutan akan mencapai suatu kondisi perasaan bahwa ia mampu menguasai ketrampilan-ketrampilan; baik dari segi fisik, emosi dan afeksional serta konseptual. Selanjutnya, kondisi perasaan demikian akan terus berkembang dalam berbagai pengalaman hidup sepanjang waktu dalam rentang kehidupan remaja. Berangkat dari berbagai pengalaman kehidupannya yang selalu memperoleh perasaan nyaman dan tenang atas segala kemungkinan kesulitan hidup karena selalu percaya adanya support orangtua, membuat remaja mampu untuk membangun orientasi masa depannya kelak.
Support orangtua yang dikemukakan oleh Marcia didasarkan atas paradigma yang dijabarkan oleh Bowlby (1969) tentang model attachment-exploration, yang menyatakan bahwa keberhasilan bayi bereksplorasi bergantung pada bentuk dan kekuatan attachment yang ditampilkan orangtua. Disamping itu juga, support orangtua dianggap sebagai social support yang paling utama dan pertamakali dialami dan diterima anak. Dalam support orangtua pun lebih banyak diidentifikasikan mengandung substansi aspek struktural, maupun aspek fungsional sebagai sebuah integrasi aspek yang harus ada dalam social support. Kriteria utama social support diantaranya, keterikatan yang berarti (significant relationship) guna memberi jaminan support kepada seorang anak atau remaja dalam pembentukan identitas; terlepas bahwa keterikatan itu benar-benar ada atau tidak (exist & no exist) dan lebih banyak ditemukan pada figur otoritas keluarga, yakni orangtua (Power M.J., Champion L.A., Aris S. J., 1988 : 349-350).
Kriteria penting lain dalam social support yaitu adanya aspek fungsional yang menunjukkan support secara emosional maupun secara praktikal (emotional & practical support). Kriteria demikian menjelaskan bahwa sebuah social support haruslah secara empirik dapat dibuktikan dengan meninjau praktek perawatan dan pengasuhan anak kesehariannya (caring, nurturing, intimacy, attachment, guidance) dan didalamnya ada keterikatan dan keterlibatan emosional sangat kuat dan mendalam; yang lebih banyak dilakukan oleh orangtua daripada figur lain yang signifikan. Hal demikian juga pernah dilaporkan oleh Murphy and Moriarty (1976) dalam Sarason, Levine, Basham dan Sarason (1983) yang menyatakan bahwa interaksi anak dan orangtua dalam keluarga ternyata memberikan kontribusi anak dalam mencapai kecakapan bertanggungjawab, keberanian untuk memimpin dan ketahanan terhadap situasi stress.
Lebih lanjut Sandler (1980) menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara stress dan social support, sehingga anak yang kurang merasakan social support akan mengalami maladjustment. Henderson (1980), Ramsay, Barera, Sandler (1981) menemukan bahwa orang yang merasakan emotional support akan relatif mudah untuk melakukan problem solving; sehingga kepuasan atas adanya support yang dirasakan, dipersepsi dan diterima oleh anak lebih berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya lebih lanjut. Dan lingkungan yang dipersepsikan dan dirasakan paling memberi kepuasan adalah lingkungan keluarga, karena interaksi yang terjadi antara sesama anggota keluarga terjadi begitu saja secara alamiah (natural).
Hal demikian juga pernah ditegaskan dalam pandangan teori psikoanalisis bahwasanya remaja diasumsikan masih membutuhkan keberadaan orang dewasa yang lebih berpengalaman dalam kehidupannya. Kebutuhan remaja akan keberadaan orang dewasa untuk memperoleh support, dalam teori attachment adalah kebutuhan untuk mendapatkan dukungan sosial. Perlunya dukungan sosial semacam ini menggambarkan bahwa remaja membutuhkan keberadaan orang yang dapat diandalkan, seseorang yang selalu dipercaya memberikan kasih sayang, perhatian, perawatan dan penghargaan serta menerima dirinya dengan sepenuh hati (Bowlby dalam Sarason, 1983).
Selama remaja berinteraksi bersama dengan orangtuanya, seluruh pengalaman hidup diri individu yang dimulai sejak masa kanak-kanak sampai memasuki tahap masa remaja akan memperoleh peluang yang lebih besar dan lebih baik secara kualitatif untuk diinternalisasikan ke dalam pribadi remaja. Hasil dari internalisasi tersebut adalah persepsi remaja tentang nilai, norma dan perilaku figur orangtuanya selama memberikan support kepada dirinya. Oleh karena itu, percaya adanya support orangtua yang dikemukakan oleh Marcia menjadi sangat penting untuk dipersepsikan dalam alam pemikiran remaja; mengingat bahwa support orangtua adalah social support yang pertama dan utama. Sebab dengan adanya persepsi remaja atas support orangtua, maka individu yang bersangkutan akan mendapatkan rasa aman. Dengan adanya rasa aman maka remaja menjadi lebih berani untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya, terhadap berbagai alternatif bidang pekerjaan yang kelak menjadi pilihan karirnya, membandingkan kemampuan dirinya dengan kemampuan orang lain atas pilihan karir pekerjaannya. Apabila ia mampu memahami dan menghayati kelemahan dan keunggulan atas kemampuan serta potensi dirinya terhadap pilihan karir pekerjaannya, maka ia pun relatif lebih mudah untuk menyesuai terhadap kesulitan dan permasalahan yang sedang dan akan dihadapinya kelak. Dengan kata lain, ia dianggap cukup mampu menghadapi tantangan krisis identitas yang kemungkinan bisa menimpa dirinya. Remaja mampu bertindak realistis dan layak untuk menetapkan pilihan karir pekerjaan sesuai dengan kemampuan dirinya yang membedakannya dengan orang lain serta diterima oleh pandangan sosiobudaya serta memenuhi harapan dan tuntutan lingkup masyarakat tempat remaja dibesarkan.
Persoalan atas identitas bisa menjadi meluas, jika support orangtua ternyata tidak memberi kontribusi yang positif dan konstruktif dalam proses perkembangan anak dan pembentukan identitas remaja. Kontribusi positif adalah unsur-unsur pengasuhan, bimbingan, pendidikan dan keterikatan emosional yang bersifat kondusif untuk membentuk nilai dan norma kuat dalam keluarga tempat remaja membentuk identitasnya. Sedangkan kontribusi konstruktif lebih menyatakan fungsi dan peran orangtua untuk menjaga dan memelihara pribadi remaja selama proses perkembangan dan pembentukan identitas; sehingga anak relatif cepat menyesuai dengan sebuah perubahan atau kesulitan.
3.C. Pencapaian Identitas Area Pekerjaan (Vocational Identity).
Kegagalan remaja dalam mencapai status identitas di area pekerjaan (vocational identity) dapat menyebabkan remaja yang bersangkutan mengalami kebingungan guna memutuskan dan menentukan peran dan pilihan karirnya atas sebuah pekerjaan. Dalam sebuah kebingungan, remaja tidak akan mampu memahami dan menghayati potensi-potensi kecakapan dalam dirinya yang cocok dan sesuai dengan sebuah karir pekerjaan. Ia tidak cakap untuk memilih secara selektif atas satu jenis pekerjaan dari sekumpulan pekerjaan yang begitu banyak variasinya. Pilihan yang salah sanggup menggoyahkan kepribadiannya, karena remaja akan lebih banyak menjumpai ketidakpuasan dalam kehidupan karir atas pekerjaannya. Ketidakpuasan atas diri sendiri tersebut disebabkan ia tidak lagi mampu untuk beradapatasi dengan jenis pekerjaan yang telah ditetapkannya. Remaja demikian sangat berpotensi untuk menjadi pengangguran. Ia tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pribadi yang sulit menetapi sesuatu yang telah diputuskan atas pilihan karir pekerjaannya.
Agar seorang remaja tidak melakukan kesalahan dalam menetapkan pilihan karir pekerjaannya, maka pencapaian status identitas di area pekerjaan (vocational identity) merupakan hal yang esensial dan mutlak. Dengan membentuk identitas diri di bidang pekerjaaan, remaja memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk menguji, mengidentifikasi kembali dan merekognisikan keyakinan-keyakinan, pandangan, pemikiran, gagasan serta nilai-nilai yang telah dimilikinya untuk kepentingan memilih satu pilihan karir pekerjaan dari berbagai alternatif pekerjaan yang ada. Remaja harus mempersepsikan stimulus yang ada di lingkungannya, membangun persepsi atas dirinya sendiri yang berbeda dengan masa sebelumnya dan berbeda pula dengan orang lain. Karena identitas merupakan kerangka dasar pembentukan kepribadian maka remaja harus mencapai status identitas dengan optimal untuk membedakan identitas dirinya dengan identitas orang lain (Erikson dalam Marcia, 1983). Proses untuk menetapkan alternatif pilihan yang ada tidaklah semudah yang dibayangkan. Dengan banyaknya alternatif pilihan tersebut seringkali justru membuat remaja mengalami lack, yang membuat pribadinya makin bingung dan tidak tentu arah. Hal demikian yang sering digambarkan Erikson sebagai krisis identitas. Bila krisis identitas ini menimpa pribadinya saat ia harus menetapkan pilihan karir pekerjaannya sebagai tenaga kerja produktif, maka kebingungan tersebut justru akan menjerumuskan dirinya pada pekerjaan yang terasa asing bagi pribadinya.
Menurut Marcia (1980 : 159), identitas adalah struktur diri, suatu organisasi yang dinamis dari dorongan-dorongan, kemampuan-kemampuan, keyakinan-keyakinan yang terstruktur dengan sendirinya dalam diri individu sepanjang proses perkembangannya. Erikson dalam Cremers (1989 : 182) menegaskan, bahwa remaja yang berhasil mencapai identitas akan memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, tidak meragukan tentang identitas batinnya serta mengenal perannya dalam masyarakat, termasuk didalamnya peran karir pekerjaan yang sering diasosiasikan dengan opini tingkat pendidikan. Jika identitas tidak terbentuk mantap, individu menjadi kurang yakin pada kemampuan diri sendiri sehingga ia sulit melihat perbedaan dan persamaannya dengan orang lain. Akibatnya, remaja cenderung menjadi bergantung pada kemampuan orang lain kendati tingkat pendidikannya relatif tinggi dan dinilai potensial sebagai tenaga kerja produktif. Remaja demikian cenderung menunggu kesempatan kerja, bukan menciptakan pekerjaan, sehingga sangat potensial terperangkap sebagai pengangguran.
Marcia dalam Archer (1994 : 17) menyatakan bahwa konsep pembentukan identitas merupakan pengembangan konsep pemikiran Erikson. Menurutnya, Erikson yakin bahwa seseorang dapat mencapai identitas diri jika ia mampu membangun keseimbangan antara kebutuhan-kebutuhan dirinya dengan harapan masyarakat tempat ia dibesarkan. Remaja harus pula membangun nilai-nilai dalam pribadinya sebagai dasar acuan pola perilaku sehubungan dengan pilihan karir pekerjaannya. Dan sesuatu yang telah dipilih dan ditetapkan remaja tersebut haruslah wajar dalam pandangan, harapan dan tuntutan masyarakat sehingga ia mampu menyesuai dengan realitas permasalahan masyarakat yang ada saat itu. Pencapaian status identitas di bidang pekerjaan hanya mungkin terjadi, apabila remaja sadar akan ciri-ciri khas pribadinya, seperti kesukaan dan ketidaksukannya, minat dan aspirasinya, tujuan masa depan yang diantisipasi dan direncanakan, perasaan bahwa ia dapat dan mampu mengatur orientasi hidupnya secara lebih mandiri. Bila remaja tidak realistis menentukan pilihan karir pekerjaannya, maka ancaman kegagalan atas karir pekerjaannya siap menghadang. Remaja demikian cukup berpotensi mengalami kebangkrutan dalam karir dunia dunia wirausaha, kendati ia dinilai sebagai tenaga terdidik dalam angkatan kerja.
Marcia (1966) mengemukakan bahwa dasar pembentukan identitas melalui dua buah proses, yakni eksplorasi dan komitmen. Eksplorasi mengarah pada keinginan untuk mempertimbangkan tujuan yang mungkin dicapai oleh individu pada masa mendatang. Komitmen menggambarkan sebagai sebuah ketetapan tingkahlaku Dalam identitas bidang pekerjaan, eksplorasi berkaitan dengan adanya usaha untuk mendalami dan mengetahui secara benar berbagai alternatif pekerjaan yang cocok dengan karakteristik pribadi dan potensi-potensinya guna meraih tujuan di masa datang. Sementara itu komitmen menggambarkan kekuatan dorongan, kemantapan hati serta kesesuaian cara berpikir dan bertindak atas pilihan karir pekerjaan yang telah dipertimbangkan untuk ditekuninya.
Berdasarkan kedua proses eksplorasi dan komitmen tersebut, Marcia (1966, 1980) menjabarkannya ke dalam 4 (empat) status identitas yang bisa dicapai individu. Keempat status identitas tersebut adalah sebagai berikut:
1) Identity Achievement
Remaja yang telah mencapai status identitas ini adalah individu yang berhasil dengan baik menempuh periode eksplorasi untuk menetapkan berbagai alternatif pilihan yang ada serta telah berhasil membuat suatu komitmen kuat berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam diri mereka. Remaja yang mencapai status identitas demikian dapat dikatakan bahwa ia telah memiliki identitas diri.
2) Moratorium
Remaja dengan status identitas ini menunjukkan keberhasilan dalam periode eksplorasi yang telah dilaluinya, akan tetapi komitmen yang dibuat masih belum jelas benar dan samar-samar. Remaja yang berada dalam status identitas demikian biasanya masih berada dalam kecemasan yang nyata.
3) Foreclosure
Remaja dengan status identitas ini adalah individu yang hanya melakukan sedikit eksplorasi, akan tetapi telah menetapkan sebuah komitmen berdasarkan nilai-nilai yang diperoleh pada masa anak. Lazimnya individu demikian menganut nilai-nilai otoritas, seperti nilai-nilai dari orangtua.
4) Identity Diffusion
Status identitas ini menggambarkan remaja yang tidak melakukan eksplorasi dan juga tidak membuat komitmen jelas dan mantap dalam kehidupan mereka. Pada umumnya keyakinan diri dari remaja dengan status identitas demikian relatif lebih mudah dipengaruhi orang lain dan terpengaruh oleh perubahan situasi yang cepat.
Kegagalan remaja dalam mencapai status identitas di area pekerjaan (vocational identity) dapat menyebabkan remaja yang bersangkutan mengalami kebingungan guna memutuskan dan menentukan peran dan pilihan karirnya atas sebuah pekerjaan. Dalam sebuah kebingungan, remaja tidak akan mampu memahami dan menghayati potensi-potensi kecakapan dalam dirinya yang cocok dan sesuai dengan sebuah karir pekerjaan. Ia tidak cakap untuk memilih secara selektif atas satu jenis pekerjaan dari sekumpulan pekerjaan yang begitu banyak variasinya. Pilihan yang salah sanggup menggoyahkan kepribadiannya, karena remaja akan lebih banyak menjumpai ketidakpuasan dalam kehidupan karir atas pekerjaannya. Ketidakpuasan atas diri sendiri tersebut disebabkan ia tidak lagi mampu untuk beradapatasi dengan jenis pekerjaan yang telah ditetapkannya. Remaja demikian sangat berpotensi untuk menjadi pengangguran. Ia tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pribadi yang sulit menetapi sesuatu yang telah diputuskan atas pilihan karir pekerjaannya.
Agar seorang remaja tidak melakukan kesalahan dalam menetapkan pilihan karir pekerjaannya, maka pencapaian status identitas di area pekerjaan (vocational identity) merupakan hal yang esensial dan mutlak. Dengan membentuk identitas diri di bidang pekerjaaan, remaja memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk menguji, mengidentifikasi kembali dan merekognisikan keyakinan-keyakinan, pandangan, pemikiran, gagasan serta nilai-nilai yang telah dimilikinya untuk kepentingan memilih satu pilihan karir pekerjaan dari berbagai alternatif pekerjaan yang ada. Remaja harus mempersepsikan stimulus yang ada di lingkungannya, membangun persepsi atas dirinya sendiri yang berbeda dengan masa sebelumnya dan berbeda pula dengan orang lain. Karena identitas merupakan kerangka dasar pembentukan kepribadian maka remaja harus mencapai status identitas dengan optimal untuk membedakan identitas dirinya dengan identitas orang lain (Erikson dalam Marcia, 1983). Proses untuk menetapkan alternatif pilihan yang ada tidaklah semudah yang dibayangkan. Dengan banyaknya alternatif pilihan tersebut seringkali justru membuat remaja mengalami lack, yang membuat pribadinya makin bingung dan tidak tentu arah. Hal demikian yang sering digambarkan Erikson sebagai krisis identitas. Bila krisis identitas ini menimpa pribadinya saat ia harus menetapkan pilihan karir pekerjaannya sebagai tenaga kerja produktif, maka kebingungan tersebut justru akan menjerumuskan dirinya pada pekerjaan yang terasa asing bagi pribadinya.
Menurut Marcia (1980 : 159), identitas adalah struktur diri, suatu organisasi yang dinamis dari dorongan-dorongan, kemampuan-kemampuan, keyakinan-keyakinan yang terstruktur dengan sendirinya dalam diri individu sepanjang proses perkembangannya. Erikson dalam Cremers (1989 : 182) menegaskan, bahwa remaja yang berhasil mencapai identitas akan memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, tidak meragukan tentang identitas batinnya serta mengenal perannya dalam masyarakat, termasuk didalamnya peran karir pekerjaan yang sering diasosiasikan dengan opini tingkat pendidikan. Jika identitas tidak terbentuk mantap, individu menjadi kurang yakin pada kemampuan diri sendiri sehingga ia sulit melihat perbedaan dan persamaannya dengan orang lain. Akibatnya, remaja cenderung menjadi bergantung pada kemampuan orang lain kendati tingkat pendidikannya relatif tinggi dan dinilai potensial sebagai tenaga kerja produktif. Remaja demikian cenderung menunggu kesempatan kerja, bukan menciptakan pekerjaan, sehingga sangat potensial terperangkap sebagai pengangguran.
Marcia dalam Archer (1994 : 17) menyatakan bahwa konsep pembentukan identitas merupakan pengembangan konsep pemikiran Erikson. Menurutnya, Erikson yakin bahwa seseorang dapat mencapai identitas diri jika ia mampu membangun keseimbangan antara kebutuhan-kebutuhan dirinya dengan harapan masyarakat tempat ia dibesarkan. Remaja harus pula membangun nilai-nilai dalam pribadinya sebagai dasar acuan pola perilaku sehubungan dengan pilihan karir pekerjaannya. Dan sesuatu yang telah dipilih dan ditetapkan remaja tersebut haruslah wajar dalam pandangan, harapan dan tuntutan masyarakat sehingga ia mampu menyesuai dengan realitas permasalahan masyarakat yang ada saat itu. Pencapaian status identitas di bidang pekerjaan hanya mungkin terjadi, apabila remaja sadar akan ciri-ciri khas pribadinya, seperti kesukaan dan ketidaksukannya, minat dan aspirasinya, tujuan masa depan yang diantisipasi dan direncanakan, perasaan bahwa ia dapat dan mampu mengatur orientasi hidupnya secara lebih mandiri. Bila remaja tidak realistis menentukan pilihan karir pekerjaannya, maka ancaman kegagalan atas karir pekerjaannya siap menghadang. Remaja demikian cukup berpotensi mengalami kebangkrutan dalam karir dunia dunia wirausaha, kendati ia dinilai sebagai tenaga terdidik dalam angkatan kerja.
Marcia (1966) mengemukakan bahwa dasar pembentukan identitas melalui dua buah proses, yakni eksplorasi dan komitmen. Eksplorasi mengarah pada keinginan untuk mempertimbangkan tujuan yang mungkin dicapai oleh individu pada masa mendatang. Komitmen menggambarkan sebagai sebuah ketetapan tingkahlaku Dalam identitas bidang pekerjaan, eksplorasi berkaitan dengan adanya usaha untuk mendalami dan mengetahui secara benar berbagai alternatif pekerjaan yang cocok dengan karakteristik pribadi dan potensi-potensinya guna meraih tujuan di masa datang. Sementara itu komitmen menggambarkan kekuatan dorongan, kemantapan hati serta kesesuaian cara berpikir dan bertindak atas pilihan karir pekerjaan yang telah dipertimbangkan untuk ditekuninya.
Berdasarkan kedua proses eksplorasi dan komitmen tersebut, Marcia (1966, 1980) menjabarkannya ke dalam 4 (empat) status identitas yang bisa dicapai individu. Keempat status identitas tersebut adalah sebagai berikut:
1) Identity Achievement
Remaja yang telah mencapai status identitas ini adalah individu yang berhasil dengan baik menempuh periode eksplorasi untuk menetapkan berbagai alternatif pilihan yang ada serta telah berhasil membuat suatu komitmen kuat berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam diri mereka. Remaja yang mencapai status identitas demikian dapat dikatakan bahwa ia telah memiliki identitas diri.
2) Moratorium
Remaja dengan status identitas ini menunjukkan keberhasilan dalam periode eksplorasi yang telah dilaluinya, akan tetapi komitmen yang dibuat masih belum jelas benar dan samar-samar. Remaja yang berada dalam status identitas demikian biasanya masih berada dalam kecemasan yang nyata.
3) Foreclosure
Remaja dengan status identitas ini adalah individu yang hanya melakukan sedikit eksplorasi, akan tetapi telah menetapkan sebuah komitmen berdasarkan nilai-nilai yang diperoleh pada masa anak. Lazimnya individu demikian menganut nilai-nilai otoritas, seperti nilai-nilai dari orangtua.
4) Identity Diffusion
Status identitas ini menggambarkan remaja yang tidak melakukan eksplorasi dan juga tidak membuat komitmen jelas dan mantap dalam kehidupan mereka. Pada umumnya keyakinan diri dari remaja dengan status identitas demikian relatif lebih mudah dipengaruhi orang lain dan terpengaruh oleh perubahan situasi yang cepat.
Jika seorang remaja dari dimensi Industri telah dianggap optimal mencapai status identitas di bidang pekerjaan dan ia mampu menetapkan pilihan karirnya secara realistis, maka bukan berarti bahwa remaja dari dimensi Nonindustri akan lebih baik atau lebih buruk dalam mencapai status identitas yang sama. Sebab hal yang paling esensial dan mendasar selama proses pembentukan identitas pada masa remaja akhir ini adalah terbentuknya identitas yang paling baik bagi dirinya sendiri dan dapat diterima oleh pandangan masyarakat serta memenuhi harapan dan tuntutan masyarakat saat itu sejalan dengan perubahan sosiobudaya dan konteks sosial akibat perkembangan teknologi yang lebih cepat dari berjalannya periode waktu.
Kondisi demikian sangat potensial bagi remaja untuk terperangkap dalam krisis identitas, mengingat sebuah perubahan konteks sosial dan sosiobudaya akan berlangsung begitu cepat, drastis, tak terduga, krusial dan tidak kondusif bagi pembentukan identitas yang optimal. Kesadaran sepenuhnya atas cara-cara remaja dan orangtua untuk mengantisipasi dan mengatasi perubahan kondisi demikianlah, yang dianggap lebih penting untuk dikaji lebih mendalam dari perbedaan karakteristik kedua dimensi masyarakat tersebut.
4. Asumsi Penelitian
1) Perkembangan dan pembentukan identitas remaja dipengaruhi oleh perubahan konteks sosial dari sosiobudaya masyarakat tempat remaja tumbuh, berkembang dan dibesarkan.
2) Keluarga merupakan bagian terkecil dari sebuah komunitas kemasyarakatan, sehingga nilai dan norma dalam keluarga dapat dipengaruhi oleh nilai, norma dan beliefs systems sebuah komunitas masyarakat.
3) Pencapaian identitas remaja tidak lepas dari kontribusi pengaruh lingkungan keluarga terutama figur otoritas keluarga, yakni orangtua.
4) Support orangtua merupakan social support yang pertama kali dipersepsi dan diterima oleh seorang anak dalam proses perkembangan sepanjang sejarah kehidupannya; sehingga support orangtua merupakan support yang paling utama dan paling penting dalam social support.
5) Support orangtua juga merupakan introyeksi nilai-nilai dan norma keluarga kepada remaja selama proses pembentukan identitas sehingga persepsi remaja atas support orangtua merupakan hasil internalisasi pengalaman remaja selama berinteraksi dengan orangtuanya sejak dari masa kanak-kanak.
6) Pencapaian identitas remaja di area pekerjaan dipandang penting bagi penyesuaian diri di bidang pekerjaan agar ia mampu melewati masa krisis identitas yang tidak berkepanjangan.
7) Proses eksplorasi dan komitmen merupakan dasar dari pembentukan identitas seseorang.
8) Sosiobudaya yang berdimensi Industri adalah sebuah komunitas masyarakat yang menunjukkan karakteristik visual lingkungan fisik dan variabel struktur sosial yang bermuatan perkembangan teknologi, modernisasi dan industrialisasi.
9) Sosiobudaya yang berdimensi Nonindustri adalah sebuah komunitas masyarakat yang menunjukkan karakteristik visual lingkungan fisik dan variabel struktur sosial yang bermuatan agraris, niaga agraris dan transaksi tradisional.
5. Hipotesis Penelitian
1) Apakah terdapat hubungan antara support orangtua yang dipersepsi remaja dengan status identitas area pekerjaan dalam masyarakat dimensi Industri maupun Nonindustri?
2) Apakah terdapat perbedaan antara support orangtua yang dipersepsi remaja dengan status identitas area pekerjaan dalam masyarakat berdimensi Industri dan Nonindustri?
6. Metodologi Penelitian
6.A. Pendekatan (Approaches)
Penelitian ini dimulai dengan menggunakan pendekatan Etic yang memiliki karakteristik studi sebagai berikut: (1)Pengkajian perilaku dilakukan dengan mendudukkan posisi peneliti di luar sistem yang menjadi fokus topik penelitian.(2)Penjabaran dan perbandingan yang hendak dikaji, ditinjau dari beberapa aspek sosiobudaya masyarakat yang mungkin ikut terlibat. (3)Struktur penelitian dikembangkan dan dibentuk sendiri oleh peneliti sehingga pengontrolan variabel lebih mengacu pada kerangka konseptual dari dasar teori pengarah penelitian ini. Bila ada perbedaan antara konteks operasional dan konteks teoretik dalam sebuah variabel yang ditemukan di lapangan maka pertimbangan kerangka teoretik lebih diprioritaskan. (4)Kriteria studi dianalisis dan dijabarkan dalam konteks sosial yang lebih universal (teoretik), bukan mendasarkan pada lingkup karakteristik internal.
Metode survai digunakan untuk mengidentifikasi komunitas masyarakat berdimensi Industri dan Nonindustri; dengan cara melakukan analisis berdasarkan observasi sistematik dan penyebaran kuesioner atas target sampel. Observasi sistematik adalah prosedur pengambilan data melalui tindakan identifikasi dan pencatatan terhadap fakta atau temuan dengan dasar mengenali ciri-ciri atau karakteristik yang dimaksud sebagaimana yang dinyatakan dalam instrumen pengukuran sebagai parameternya. Adapun analisis yang akan dilaksanakan merupakan sebuah analisis komparatif atas variabel-variabel temuan penelitian yang secara teoretik dinyatakan berbeda karakteristiknya dalam kurun waktu relatif pendek (cross sectional studies).
6.B. Variabel-variabel (Variables).
Penelitian ini memiliki 4 (empat) variabel yakni masing-masing sebagai berikut:
1) Variabel terikat (Dependent Variable), yakni variabel yang bergantung keberadaan karakteristiknya disebabkan atau diakibatkan (causes) oleh variabel lain yang didentifikasi sebagai variabel bebas, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Variabel terikat (DV) penelitian adalah status identitas remaja area pekerjaan.
2) Variabel bebas (Independent Variable), yakni variabel yang diidentifikasi secara teoretik sebagai variabel paling bertanggungjawab atas keberadaan atau perubahan karakteristik variabel terikat; dan keberikatannya bisa bersifat penyebab, pemberi akibat atau bahkan pengubah karakteristik. Variabel bebas (IV) penelitian adalah support orangtua yang dipersepsi remaja berkaitan dengan pencapaian status identitas remaja area pekerjaan.
3) Variabel pengantara (IntermediateVariable), yakni variabel yang mengantarai peran variabel bebas dalam mengurangi, menghilangkan atau mengubah karakteristik variabel terikat; dan sifat pengantaran tersebut dapat merupakan kontak langsung secara korespondensi (menjembatani) atau tidak langsung (sebagai pemacu – trigger). Variabel pengantara (Im.V) penelitian adalah social support industrial pattern atau norma, nilai, sikap dan sistem keyakinan yang berlaku dalam konteks sosial pola perilaku masyarakat modern sebuah kawasan wilayah industri dan masyarakat tradisional dari sebuah kawasan yang bukan wilayah industri. Masyarakat modern sebuah kawasan wilayah industri yang dimaksud dalam penelitian ini dispesifikasikan sebagai orangtua yang bekerja di pabrik dan bertempat tinggal di Kawasan Industri Berat Kodya Cilegon. Sebaliknya, masyarakat tradisional dispesifikasikan sebagai orangtua bukan pekerja pabrik yang bertempat tinggal di Kawasan Banten Lama Kabupaten Serang.
4) Variabel intervensi (intervening variable), secara teoretik seringkali dianggap sebagai antecedents, yakni sebuah variabel yang relatif sama perannya dengan variabel pengantara namun memiliki karakteristik tambahan yakni sebagai latarbelakang dari berlangsungnya semua proses mekanisme interaksi seluruh variabel sehingga terjadi perubahan yang saling mempengaruhi, saling menyebabkan dan mengakibatkan. Detail karakteristik yang dipergunakan untuk mengidentifikasikan sebuah dimensi Industri-Nonindustri mengacu pada pandangan teoretik yang diungkapkan oleh Triandis, Malpass dan Davidson (1971), yakni sebagai berikut: (1)Lingkungan fisik yang mencakup iklim dan sumber daya yang tersedia, karakteristik visual yang ditampilkan sekumpulan masyarakat dalam area atau komunitas tertentu, produktivitas makanan dan penyakit-penyakit endemik.(2)Variabel struktur sosial, mencakup variabel demografi, seperti strata masyarakat, usia, jenis kelamin, tipe keluarga dan pola-pola interaktif anggota masyarakat antar kelompok. (3)Kecenderungan berperilaku dari kaum tua (orangtua, kakek-nenek, kelompok lanjut usia lain, guru, tokoh masyarakat) yang mencakup sikap, sistem, beliefs, motif dan nilai. (4)Perilaku verbal dan nonverbal parental yang mencakup aktivitas kebiasaan hidup sehari-hari oleh kelompok kaumtua. (5)Kecenderungan berperilaku kaum anak yang mencakup karakteristik sikap, sistem, beliefs, motif dan nilai dalam diri anak dan dapat diamati. (6)Perilaku verbal dan nonverbal kaum anak yang mencakup karakteristik aktivitas kebiasaan hidup sehari-hari oleh kelompok anak dan sebaya.
Kondisi demikian sangat potensial bagi remaja untuk terperangkap dalam krisis identitas, mengingat sebuah perubahan konteks sosial dan sosiobudaya akan berlangsung begitu cepat, drastis, tak terduga, krusial dan tidak kondusif bagi pembentukan identitas yang optimal. Kesadaran sepenuhnya atas cara-cara remaja dan orangtua untuk mengantisipasi dan mengatasi perubahan kondisi demikianlah, yang dianggap lebih penting untuk dikaji lebih mendalam dari perbedaan karakteristik kedua dimensi masyarakat tersebut.
4. Asumsi Penelitian
1) Perkembangan dan pembentukan identitas remaja dipengaruhi oleh perubahan konteks sosial dari sosiobudaya masyarakat tempat remaja tumbuh, berkembang dan dibesarkan.
2) Keluarga merupakan bagian terkecil dari sebuah komunitas kemasyarakatan, sehingga nilai dan norma dalam keluarga dapat dipengaruhi oleh nilai, norma dan beliefs systems sebuah komunitas masyarakat.
3) Pencapaian identitas remaja tidak lepas dari kontribusi pengaruh lingkungan keluarga terutama figur otoritas keluarga, yakni orangtua.
4) Support orangtua merupakan social support yang pertama kali dipersepsi dan diterima oleh seorang anak dalam proses perkembangan sepanjang sejarah kehidupannya; sehingga support orangtua merupakan support yang paling utama dan paling penting dalam social support.
5) Support orangtua juga merupakan introyeksi nilai-nilai dan norma keluarga kepada remaja selama proses pembentukan identitas sehingga persepsi remaja atas support orangtua merupakan hasil internalisasi pengalaman remaja selama berinteraksi dengan orangtuanya sejak dari masa kanak-kanak.
6) Pencapaian identitas remaja di area pekerjaan dipandang penting bagi penyesuaian diri di bidang pekerjaan agar ia mampu melewati masa krisis identitas yang tidak berkepanjangan.
7) Proses eksplorasi dan komitmen merupakan dasar dari pembentukan identitas seseorang.
8) Sosiobudaya yang berdimensi Industri adalah sebuah komunitas masyarakat yang menunjukkan karakteristik visual lingkungan fisik dan variabel struktur sosial yang bermuatan perkembangan teknologi, modernisasi dan industrialisasi.
9) Sosiobudaya yang berdimensi Nonindustri adalah sebuah komunitas masyarakat yang menunjukkan karakteristik visual lingkungan fisik dan variabel struktur sosial yang bermuatan agraris, niaga agraris dan transaksi tradisional.
5. Hipotesis Penelitian
1) Apakah terdapat hubungan antara support orangtua yang dipersepsi remaja dengan status identitas area pekerjaan dalam masyarakat dimensi Industri maupun Nonindustri?
2) Apakah terdapat perbedaan antara support orangtua yang dipersepsi remaja dengan status identitas area pekerjaan dalam masyarakat berdimensi Industri dan Nonindustri?
6. Metodologi Penelitian
6.A. Pendekatan (Approaches)
Penelitian ini dimulai dengan menggunakan pendekatan Etic yang memiliki karakteristik studi sebagai berikut: (1)Pengkajian perilaku dilakukan dengan mendudukkan posisi peneliti di luar sistem yang menjadi fokus topik penelitian.(2)Penjabaran dan perbandingan yang hendak dikaji, ditinjau dari beberapa aspek sosiobudaya masyarakat yang mungkin ikut terlibat. (3)Struktur penelitian dikembangkan dan dibentuk sendiri oleh peneliti sehingga pengontrolan variabel lebih mengacu pada kerangka konseptual dari dasar teori pengarah penelitian ini. Bila ada perbedaan antara konteks operasional dan konteks teoretik dalam sebuah variabel yang ditemukan di lapangan maka pertimbangan kerangka teoretik lebih diprioritaskan. (4)Kriteria studi dianalisis dan dijabarkan dalam konteks sosial yang lebih universal (teoretik), bukan mendasarkan pada lingkup karakteristik internal.
Metode survai digunakan untuk mengidentifikasi komunitas masyarakat berdimensi Industri dan Nonindustri; dengan cara melakukan analisis berdasarkan observasi sistematik dan penyebaran kuesioner atas target sampel. Observasi sistematik adalah prosedur pengambilan data melalui tindakan identifikasi dan pencatatan terhadap fakta atau temuan dengan dasar mengenali ciri-ciri atau karakteristik yang dimaksud sebagaimana yang dinyatakan dalam instrumen pengukuran sebagai parameternya. Adapun analisis yang akan dilaksanakan merupakan sebuah analisis komparatif atas variabel-variabel temuan penelitian yang secara teoretik dinyatakan berbeda karakteristiknya dalam kurun waktu relatif pendek (cross sectional studies).
6.B. Variabel-variabel (Variables).
Penelitian ini memiliki 4 (empat) variabel yakni masing-masing sebagai berikut:
1) Variabel terikat (Dependent Variable), yakni variabel yang bergantung keberadaan karakteristiknya disebabkan atau diakibatkan (causes) oleh variabel lain yang didentifikasi sebagai variabel bebas, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Variabel terikat (DV) penelitian adalah status identitas remaja area pekerjaan.
2) Variabel bebas (Independent Variable), yakni variabel yang diidentifikasi secara teoretik sebagai variabel paling bertanggungjawab atas keberadaan atau perubahan karakteristik variabel terikat; dan keberikatannya bisa bersifat penyebab, pemberi akibat atau bahkan pengubah karakteristik. Variabel bebas (IV) penelitian adalah support orangtua yang dipersepsi remaja berkaitan dengan pencapaian status identitas remaja area pekerjaan.
3) Variabel pengantara (IntermediateVariable), yakni variabel yang mengantarai peran variabel bebas dalam mengurangi, menghilangkan atau mengubah karakteristik variabel terikat; dan sifat pengantaran tersebut dapat merupakan kontak langsung secara korespondensi (menjembatani) atau tidak langsung (sebagai pemacu – trigger). Variabel pengantara (Im.V) penelitian adalah social support industrial pattern atau norma, nilai, sikap dan sistem keyakinan yang berlaku dalam konteks sosial pola perilaku masyarakat modern sebuah kawasan wilayah industri dan masyarakat tradisional dari sebuah kawasan yang bukan wilayah industri. Masyarakat modern sebuah kawasan wilayah industri yang dimaksud dalam penelitian ini dispesifikasikan sebagai orangtua yang bekerja di pabrik dan bertempat tinggal di Kawasan Industri Berat Kodya Cilegon. Sebaliknya, masyarakat tradisional dispesifikasikan sebagai orangtua bukan pekerja pabrik yang bertempat tinggal di Kawasan Banten Lama Kabupaten Serang.
4) Variabel intervensi (intervening variable), secara teoretik seringkali dianggap sebagai antecedents, yakni sebuah variabel yang relatif sama perannya dengan variabel pengantara namun memiliki karakteristik tambahan yakni sebagai latarbelakang dari berlangsungnya semua proses mekanisme interaksi seluruh variabel sehingga terjadi perubahan yang saling mempengaruhi, saling menyebabkan dan mengakibatkan. Detail karakteristik yang dipergunakan untuk mengidentifikasikan sebuah dimensi Industri-Nonindustri mengacu pada pandangan teoretik yang diungkapkan oleh Triandis, Malpass dan Davidson (1971), yakni sebagai berikut: (1)Lingkungan fisik yang mencakup iklim dan sumber daya yang tersedia, karakteristik visual yang ditampilkan sekumpulan masyarakat dalam area atau komunitas tertentu, produktivitas makanan dan penyakit-penyakit endemik.(2)Variabel struktur sosial, mencakup variabel demografi, seperti strata masyarakat, usia, jenis kelamin, tipe keluarga dan pola-pola interaktif anggota masyarakat antar kelompok. (3)Kecenderungan berperilaku dari kaum tua (orangtua, kakek-nenek, kelompok lanjut usia lain, guru, tokoh masyarakat) yang mencakup sikap, sistem, beliefs, motif dan nilai. (4)Perilaku verbal dan nonverbal parental yang mencakup aktivitas kebiasaan hidup sehari-hari oleh kelompok kaumtua. (5)Kecenderungan berperilaku kaum anak yang mencakup karakteristik sikap, sistem, beliefs, motif dan nilai dalam diri anak dan dapat diamati. (6)Perilaku verbal dan nonverbal kaum anak yang mencakup karakteristik aktivitas kebiasaan hidup sehari-hari oleh kelompok anak dan sebaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar