THE GOOD NEWS IS NOT NEWS, THE BAD NEWS IS GOOD TO NEWS
Pemuatan liputan berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh media massa seringkali menimbulkan perdebatan serius yang berkepanjangan. Berita kekerasan yang menjadi topik liputan dan dibeberkan oleh media massa dinilai memberi efek yang cukup signifikans terhadap terbentuknya perilaku kekerasan masyarakat. Sebagaimana diungkap dalam teori desensitization, liputan kekerasan oleh media massa secara luas tidak hanya mendorong individu menjadi tampak berperilaku keras, akan tetapi juga memperlihatkan indikasi bahwa toleransi masyarakat terhadap perilaku antisosial relatif lebih meningkat. Para kritikus media menilai bahwa media massa mempunyai andil atas terjadinya desensistization kekerasan (kurang sensitifnya terhadap kekerasan) dan harus bertanggungjawab untuk hal tersebut. Akan tetapi orang-orang media, khususnya insan film dan televisi, memberi tanggapan bahwa desensitization dapat diatasi apabila media massa justru mengungkap peristiwa kekerasan dengan apa adanya untuk menggambarkan peristiwa yang senyatanya. Mereka menjelaskan bahwa cukup banyak alternatif pemaparan kekerasan oleh media massa, termasuk didalamnya cara pengungkapan kekerasan yang mungkin berbeda dengan kondisi senyatanya, akan tetapi para audiens justru mempertanyakan aktualitas fakta yang sesungguhnya terjadi. Lagi pula, berita kekerasan seringkali ditayangkan dalam bentuk sebuah jeda sekuens ditengah-tengah acara lain, sehingga dapat dianggap sebagai berita sepintas saja.
Tentu saja, para kritikus media menilai tanggapan tersebut kurang memuaskan karena orang-orang media dinilai mendasarkan alternatif penayangan berita kekerasan tidak bertolak dari bagaimana agar pilihan mereka tersebut dapat menurunkan kemungkinan kekerasaan oleh masyarakat. Oleh karena itu liputan kekerasan yang ditayangkan oleh media massa tetap dianggap menjadikan para audiens sebagai korban berita karena mereka dikendalikan oleh media massa untuk menjadi berperilaku keras. Walaupun demikian, para kritikus media menyadari bahwa masalah demikian identik dengan pertanyaan mana yang lebih dahulu terjadi; telur atau ayam; sehingga memandang bahwa media massa tidak berada dalam posisi yang sengaja menggunakan teori desensitization untuk meningkatkan kekerasan dengan tayangan liputan mereka. Akan tetapi para kritikus media tetap menilai bahwa media massa memberikan andil terbentuknya kekerasan dalam masyarakat karena tayangan liputan tersebut mendorong masyarakat menjadi kurang sensitif terhadap kekerasan (desensitization); sehingga menuntut media massa untuk mencari alternatif penayangan berita guna menurunkan tingkat kekerasan oleh masyarakat.
Seorang ahli George Gerbner juga tak luput dari semacam kekhawatiran tentang pemuatan berita kekerasan oleh media massa. Tercatat bahwa dia merupakan seorang ahli yang paling lama melakukan kegiatan penelitian tentang berita kekerasan dalam media massa dibanding dengan para ahli lain. Pada tahun 1967, Gerbner dengan para koleganya dari Universitas Pennsylvania membuat indeks kekerasan yang ditayangkan televisi dan dengan cara demikian ia mulai menghitung tindak kekerasan yang terjadi. Ia melakukan semua kegiatan tersebut hampir selama tiga dekade. Gerbner memperoleh catatan hitungan bahwa anak-anak Amerika dengan usia sekitar 18 tahunan telah melihat 32.000 berita atau adegan pembunuhan serta 40.000 usaha percobaan pembunuhan melalui tayangan televisi dirumah. Masih dengan pandangan yang meragukan, terdapat berita baik dari hasil pengamatan tesebut yang menyatakan bahwa kebanyakan dari mereka juga merasa takut dengan efek pengaruh kekerasan yang disajikan oleh media televisi. Gerbner dengan indeks yang telah dikonstruksinya telah menemukan tidak adanya signifikansi (keberartian) perubahan dalam jumlah kekerasan sejak pertengahan tahun 1970an. Ini barangkali merupakan sebuah hasil penyelidikan yang dapat dianggap lebih dari cukup.
Gerbner kemudian mengajukan sebuah teori bahwa kekerasan dalam media mempunyai efek pengaruh negatif bagi masyarakat, akan tetapi ia menyebutnya sebagai sebuah “sindrom memaknakan dunia”; sehingga lebih bergantung dari sisi orang sebagai audiens yang melihat tayangan kekerasan. Gerbner melihat bahwa orang akan menjadi lebih terekspose dengan kekerasan pada permasalahan cara memandang sebuah dunia sekitar yang dialaminya, yang menempatkan suatu situasi dianggap menjadi lebih berbahaya dari kenyataan situasi sesungguhnya, setelah seringkali melihat tayangan kekerasan. Selain itu, orang pun akan menjadi lebih terbuka untuk memperhatikan keselamatan dan keamanan diri pribadinya, sehingga menjadi terdorong untuk berkeinginan agar aparat kepolisian mampu menjamin keamanan dan keselamatan pribadinya. Secara tidak disadari, pemikiran kebanyakan orang yang sedemikian rupa membawa konsekuensi bahwa kebebasan dan keterbukaan masyarakat mereka tetap menginginkan sesuatu yang bersifat protektif sehingga secara sekaligus dapat membatasi kebebasan mereka pula. Kisah-kisah sepak terjang aparat kepolisian yang berjuang keras memerangi kejahatan tampaknya kemudian menjadi sebuah nilai yang paling mengemuka dalam gaya hidup Amerika.
Sejumlah konglomerasi perusahaan secara global kemudian menempuh kebijakan untuk menggunakan trend media demikian yang berdasar dari gaya hidup Amerika tersebut dengan tujuan memasarkan produk-produk mereka, baik melalui tayangan program televisi, musik atau mengkreasi adegan film tersendiri. Mereka memandang bahwa kekerasan merupakan sebuah topik yang paling mengemuka, dalam arti sangat populer untuk disukai masyarakat, dan mereka menggunakannya untuk memasarkan produk-produk mereka. Lagi pula, tayangan kekerasan oleh media dianggap hanya memerlukan ongkos produksi yang relatif murah. Gerbner juga menemukan adanya faktor indeks penunjuk yang menyebutkan pemahaman kekerasan dalam suatu medai tanpa perlu mempersoalkan konteks dari isi yang dikomunikasikan oleh media bersangkutan. Film-film seperti putusnya kepala Bugs Bunny diperhitungkan dengan anggapan yang sama sebagai sebuah bentuk adegan kekerasan oleh audiens sebagaimana adegan yang seringkali ditemukan dalam film Rambo. Dengan kata lain, bahwa kualitas isi tayangan film kartun tersebut dianggap memiliki derajat kekerasan yang relatif sama dengan film Rambo pahlawan USA dalam perang Vietnam yang tangguh menghabisi musuh-musuhnya. Demikian pula dengan pelototan mata serta gebukan trio komedi Three Stooges dapat diperhitungkan sebagai sebuah tindakan kekerasan oleh audiens. Dari temuan penyelidikannya Gerbner memperoleh gambaran bahwa terdapat bukti-bukti yang diperlukan untuk membuat titik tolak yang mendasar dalam mengukur sebuah tindakan kekerasan yang ditayangkan oleh media televisi.
Pengamatan Gerbner tampaknya identik dengan teori yang dikemukakan dalam model DeFleur yang melihat sumber (sources), pemancar (transmitter), penerima (receiver), dan sasaran (destination) sebagai fase-fase yang terpisah dalam proses komunikasi massa. Oleh karena itu Source dan transmitter adalah dua fase atau dua fungsi yang berbeda dalam menyatakan makna denotatif dan konotatif (merumuskan makna ke dalam pesan) dan kemudian mengubahnya menjadi peristiwa yang dapat dipersepsi sebagai rangsangan sebagaimana khalayak pada umumnya. Fungsi receiver dalam model DeFleur adalah menerima informasi dan menyandi baik; mengubah peristiwa fisik informasi menjadi pesan (sistem simbol yang signifikans). Menurut DeFleur, komunikasi bukanlah lagi dapat dipandang sebagai pemindahan makna. Karena komunikasi terjadi lewat operasi seperangkat komponen dalam sebuah sistem teoretis, dengan sendirinya memiliki konsekuensi munculnya isomorfism (isomorphism) diantara respon inetrnal (makna) terhadap seperangkat simbol tertentu pada pihak pengirim dan penerima. Isomorfisme makna merujuk pada upaya membuat makna terkoordinasikan antara pengirim dan khalayak, sehingga hasil dari pemaknaan yang terbentuk dengan sendirinya cenderung berubah-ubah. Penjabaran komunikasi secara demikian menunjukkan adanya keserupaan dengan pandangan yang dikemukakan oleh Tim Buell yang meyakini bahwa media massa, terutama televisi, memberitahu khalayak tidak hanya tentang apa yang mereka pikirkan, akan tetapi juga menitikberatkan pada realitas dengan segala sesuatu hal yang orang lain pikirkan menurut dugaan dan pandangan mereka sendiri.
Hal serupa juga pernah diungkapkan dalam model uses & gratifications yang memperlihatkan bahwa fokus utama permasalahan dalam komunikasi media massa bukanlah pada bagaimana medai mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi pada bagaimana media telah memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak. Jadi sentral permasalahannya pada bobot khalayak yang aktif dan sengaja menggunakan media untuk mencapai tujuan khusus. Dalam asumsi ini, Blummer hendak mengajukan pengertian yang tersirat bahwa komunikasi massa mempunyai kegunaan (utility), bahwa konsumsi media diarahkan oleh motif secara selektif (selectivity) dan bahwa khalayak sebenarnya kepala batu (stubborn). Penggunaan media massa hanyalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan psikologis, karena efek media dinilai sebagai situasi ketika kebutuhan itu menjadi terpenuhi. Efek media dapat dioperasionalkan sebagai evaluasi kemampuan medai untuk memberikan kepuasan, sehingga isi media massa memberi efek yang bergantung untuk tujuan informasi dan sebagai pengetahuan, yang keseluruhannya berpulang kepada proses kognitif dan persepsi serta pemaknaan atau isomorfism khalayak sebagaimana telah dijabarkan dalam konsep model komunikasi DeFleur.
Tentu saja, para kritikus media menilai tanggapan tersebut kurang memuaskan karena orang-orang media dinilai mendasarkan alternatif penayangan berita kekerasan tidak bertolak dari bagaimana agar pilihan mereka tersebut dapat menurunkan kemungkinan kekerasaan oleh masyarakat. Oleh karena itu liputan kekerasan yang ditayangkan oleh media massa tetap dianggap menjadikan para audiens sebagai korban berita karena mereka dikendalikan oleh media massa untuk menjadi berperilaku keras. Walaupun demikian, para kritikus media menyadari bahwa masalah demikian identik dengan pertanyaan mana yang lebih dahulu terjadi; telur atau ayam; sehingga memandang bahwa media massa tidak berada dalam posisi yang sengaja menggunakan teori desensitization untuk meningkatkan kekerasan dengan tayangan liputan mereka. Akan tetapi para kritikus media tetap menilai bahwa media massa memberikan andil terbentuknya kekerasan dalam masyarakat karena tayangan liputan tersebut mendorong masyarakat menjadi kurang sensitif terhadap kekerasan (desensitization); sehingga menuntut media massa untuk mencari alternatif penayangan berita guna menurunkan tingkat kekerasan oleh masyarakat.
Seorang ahli George Gerbner juga tak luput dari semacam kekhawatiran tentang pemuatan berita kekerasan oleh media massa. Tercatat bahwa dia merupakan seorang ahli yang paling lama melakukan kegiatan penelitian tentang berita kekerasan dalam media massa dibanding dengan para ahli lain. Pada tahun 1967, Gerbner dengan para koleganya dari Universitas Pennsylvania membuat indeks kekerasan yang ditayangkan televisi dan dengan cara demikian ia mulai menghitung tindak kekerasan yang terjadi. Ia melakukan semua kegiatan tersebut hampir selama tiga dekade. Gerbner memperoleh catatan hitungan bahwa anak-anak Amerika dengan usia sekitar 18 tahunan telah melihat 32.000 berita atau adegan pembunuhan serta 40.000 usaha percobaan pembunuhan melalui tayangan televisi dirumah. Masih dengan pandangan yang meragukan, terdapat berita baik dari hasil pengamatan tesebut yang menyatakan bahwa kebanyakan dari mereka juga merasa takut dengan efek pengaruh kekerasan yang disajikan oleh media televisi. Gerbner dengan indeks yang telah dikonstruksinya telah menemukan tidak adanya signifikansi (keberartian) perubahan dalam jumlah kekerasan sejak pertengahan tahun 1970an. Ini barangkali merupakan sebuah hasil penyelidikan yang dapat dianggap lebih dari cukup.
Gerbner kemudian mengajukan sebuah teori bahwa kekerasan dalam media mempunyai efek pengaruh negatif bagi masyarakat, akan tetapi ia menyebutnya sebagai sebuah “sindrom memaknakan dunia”; sehingga lebih bergantung dari sisi orang sebagai audiens yang melihat tayangan kekerasan. Gerbner melihat bahwa orang akan menjadi lebih terekspose dengan kekerasan pada permasalahan cara memandang sebuah dunia sekitar yang dialaminya, yang menempatkan suatu situasi dianggap menjadi lebih berbahaya dari kenyataan situasi sesungguhnya, setelah seringkali melihat tayangan kekerasan. Selain itu, orang pun akan menjadi lebih terbuka untuk memperhatikan keselamatan dan keamanan diri pribadinya, sehingga menjadi terdorong untuk berkeinginan agar aparat kepolisian mampu menjamin keamanan dan keselamatan pribadinya. Secara tidak disadari, pemikiran kebanyakan orang yang sedemikian rupa membawa konsekuensi bahwa kebebasan dan keterbukaan masyarakat mereka tetap menginginkan sesuatu yang bersifat protektif sehingga secara sekaligus dapat membatasi kebebasan mereka pula. Kisah-kisah sepak terjang aparat kepolisian yang berjuang keras memerangi kejahatan tampaknya kemudian menjadi sebuah nilai yang paling mengemuka dalam gaya hidup Amerika.
Sejumlah konglomerasi perusahaan secara global kemudian menempuh kebijakan untuk menggunakan trend media demikian yang berdasar dari gaya hidup Amerika tersebut dengan tujuan memasarkan produk-produk mereka, baik melalui tayangan program televisi, musik atau mengkreasi adegan film tersendiri. Mereka memandang bahwa kekerasan merupakan sebuah topik yang paling mengemuka, dalam arti sangat populer untuk disukai masyarakat, dan mereka menggunakannya untuk memasarkan produk-produk mereka. Lagi pula, tayangan kekerasan oleh media dianggap hanya memerlukan ongkos produksi yang relatif murah. Gerbner juga menemukan adanya faktor indeks penunjuk yang menyebutkan pemahaman kekerasan dalam suatu medai tanpa perlu mempersoalkan konteks dari isi yang dikomunikasikan oleh media bersangkutan. Film-film seperti putusnya kepala Bugs Bunny diperhitungkan dengan anggapan yang sama sebagai sebuah bentuk adegan kekerasan oleh audiens sebagaimana adegan yang seringkali ditemukan dalam film Rambo. Dengan kata lain, bahwa kualitas isi tayangan film kartun tersebut dianggap memiliki derajat kekerasan yang relatif sama dengan film Rambo pahlawan USA dalam perang Vietnam yang tangguh menghabisi musuh-musuhnya. Demikian pula dengan pelototan mata serta gebukan trio komedi Three Stooges dapat diperhitungkan sebagai sebuah tindakan kekerasan oleh audiens. Dari temuan penyelidikannya Gerbner memperoleh gambaran bahwa terdapat bukti-bukti yang diperlukan untuk membuat titik tolak yang mendasar dalam mengukur sebuah tindakan kekerasan yang ditayangkan oleh media televisi.
Pengamatan Gerbner tampaknya identik dengan teori yang dikemukakan dalam model DeFleur yang melihat sumber (sources), pemancar (transmitter), penerima (receiver), dan sasaran (destination) sebagai fase-fase yang terpisah dalam proses komunikasi massa. Oleh karena itu Source dan transmitter adalah dua fase atau dua fungsi yang berbeda dalam menyatakan makna denotatif dan konotatif (merumuskan makna ke dalam pesan) dan kemudian mengubahnya menjadi peristiwa yang dapat dipersepsi sebagai rangsangan sebagaimana khalayak pada umumnya. Fungsi receiver dalam model DeFleur adalah menerima informasi dan menyandi baik; mengubah peristiwa fisik informasi menjadi pesan (sistem simbol yang signifikans). Menurut DeFleur, komunikasi bukanlah lagi dapat dipandang sebagai pemindahan makna. Karena komunikasi terjadi lewat operasi seperangkat komponen dalam sebuah sistem teoretis, dengan sendirinya memiliki konsekuensi munculnya isomorfism (isomorphism) diantara respon inetrnal (makna) terhadap seperangkat simbol tertentu pada pihak pengirim dan penerima. Isomorfisme makna merujuk pada upaya membuat makna terkoordinasikan antara pengirim dan khalayak, sehingga hasil dari pemaknaan yang terbentuk dengan sendirinya cenderung berubah-ubah. Penjabaran komunikasi secara demikian menunjukkan adanya keserupaan dengan pandangan yang dikemukakan oleh Tim Buell yang meyakini bahwa media massa, terutama televisi, memberitahu khalayak tidak hanya tentang apa yang mereka pikirkan, akan tetapi juga menitikberatkan pada realitas dengan segala sesuatu hal yang orang lain pikirkan menurut dugaan dan pandangan mereka sendiri.
Hal serupa juga pernah diungkapkan dalam model uses & gratifications yang memperlihatkan bahwa fokus utama permasalahan dalam komunikasi media massa bukanlah pada bagaimana medai mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi pada bagaimana media telah memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak. Jadi sentral permasalahannya pada bobot khalayak yang aktif dan sengaja menggunakan media untuk mencapai tujuan khusus. Dalam asumsi ini, Blummer hendak mengajukan pengertian yang tersirat bahwa komunikasi massa mempunyai kegunaan (utility), bahwa konsumsi media diarahkan oleh motif secara selektif (selectivity) dan bahwa khalayak sebenarnya kepala batu (stubborn). Penggunaan media massa hanyalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan psikologis, karena efek media dinilai sebagai situasi ketika kebutuhan itu menjadi terpenuhi. Efek media dapat dioperasionalkan sebagai evaluasi kemampuan medai untuk memberikan kepuasan, sehingga isi media massa memberi efek yang bergantung untuk tujuan informasi dan sebagai pengetahuan, yang keseluruhannya berpulang kepada proses kognitif dan persepsi serta pemaknaan atau isomorfism khalayak sebagaimana telah dijabarkan dalam konsep model komunikasi DeFleur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar